Moments Entertainment
Moments Entertainment
Kisah Sedih Perjuangan SUGA BTS: Dari Anak Sederhana di Daegu hingga Berani Bermimpi Menjadi Musisi (Part 1)

Kisah Sedih Perjuangan SUGA BTS: Dari Anak Sederhana di Daegu hingga Berani Bermimpi Menjadi Musisi (Part 1)

Oleh Editor Moments7 Agustus 20261 Menit Baca
106x Dilihat

SUGA BTS atau Min Yoongi memulai perjalanan hidupnya dari keluarga sederhana di Daegu. Sejak remaja ia mencintai musik, belajar membuat lagu dengan fasilitas terbatas, dan berjuang mempertahankan mimpinya meski menghadapi berbagai tantangan.

Bagikan:

Share ke media sosial dapatkan poin. Poin hanya diberikan jika share berhasil.

Di balik sorotan lampu panggung, gemuruh konser yang dipenuhi puluhan ribu penggemar, dan kesuksesan BTS sebagai salah satu grup musik terbesar di dunia, terdapat perjalanan panjang yang penuh perjuangan. Salah satu kisah yang paling menyentuh datang dari Min Yoongi, yang dikenal dunia sebagai SUGA dan Agust D.

Banyak orang mengenalnya sebagai rapper, produser, sekaligus penulis lagu berbakat. Namun, jauh sebelum namanya dikenal jutaan orang, Yoongi hanyalah seorang anak laki-laki dari kota Daegu yang menyimpan mimpi besar di tengah keterbatasan. Jalan yang ia pilih tidak mudah. Penolakan, kesulitan ekonomi, hingga keraguan dari orang-orang terdekat menjadi bagian dari perjalanan yang harus ia hadapi.

Inilah awal dari kisah perjuangan Min Yoongi—sebuah cerita tentang keberanian mengejar mimpi ketika hampir tidak ada yang percaya.


Lahir dari Keluarga Sederhana

Min Yoongi lahir pada 9 Maret 1993 di Daegu, Korea Selatan. Ia tumbuh dalam keluarga yang menjalani kehidupan sederhana. Masa kecilnya tidak dipenuhi kemewahan, dan sejak dini ia memahami bahwa orang tuanya bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

Lingkungan tempat ia dibesarkan jauh dari gemerlap dunia hiburan. Tidak ada tanda-tanda bahwa suatu hari anak laki-laki dari Daegu ini akan berdiri di panggung-panggung terbesar dunia. Seperti banyak remaja lainnya, ia menjalani kehidupan sekolah, bertemu teman-teman, dan perlahan mencari jati diri.

Namun, ada satu hal yang mulai membedakannya: ketertarikannya pada musik.


Pertemuan yang Mengubah Hidup

Saat masih remaja, Yoongi mulai mendengarkan berbagai genre musik, terutama hip-hop. Irama, lirik, dan kebebasan berekspresi yang ia temukan dalam musik membuatnya merasa memiliki tempat untuk menuangkan pikiran dan perasaannya.

Musik bukan sekadar hiburan. Baginya, musik menjadi bahasa yang mampu mengungkapkan apa yang sulit diucapkan.

Di usia sekitar 13 tahun, ia mulai mempelajari cara membuat musik menggunakan perangkat MIDI. Dengan fasilitas yang terbatas, ia belajar secara bertahap tentang menyusun beat, menulis lirik, dan memproduksi lagu. Setiap pengetahuan baru yang diperoleh semakin menguatkan keyakinannya bahwa musik adalah jalan hidup yang ingin ia tempuh.


Mimpi yang Tidak Mudah Diterima

Semakin besar kecintaannya pada musik, semakin jelas pula cita-citanya: ia ingin menjadi produser musik.

Namun, impian itu tidak disambut dengan antusias oleh keluarganya. Pada masa itu, profesi musisi dipandang memiliki masa depan yang tidak pasti. Kekhawatiran orang tua muncul dari keinginan agar anak mereka memiliki pekerjaan yang lebih stabil.

Perbedaan pandangan ini menjadi salah satu tantangan terbesar dalam kehidupan Yoongi. Di satu sisi, ia memahami kekhawatiran keluarganya. Di sisi lain, ia merasa bahwa meninggalkan musik berarti meninggalkan bagian penting dari dirinya.

Pertentangan inilah yang perlahan membentuk tekadnya. Semakin banyak keraguan yang ia hadapi, semakin kuat keinginannya untuk membuktikan bahwa musik bukan sekadar hobi, melainkan tujuan hidup.


Belajar Tanpa Banyak Fasilitas

Perjalanan mengejar mimpi tidak selalu ditemani peralatan yang lengkap. Yoongi belajar memanfaatkan apa yang tersedia. Ia menghabiskan banyak waktu untuk memahami proses pembuatan musik, mencoba berbagai ide, dan terus mengasah kemampuan menulis lirik.

Setiap lagu yang ia ciptakan menjadi latihan untuk berkembang. Ia sadar bahwa bakat saja tidak cukup. Kemampuan harus dibangun melalui kerja keras dan konsistensi.

Di usia ketika banyak remaja menghabiskan waktu untuk bermain, Yoongi justru lebih sering tenggelam dalam dunia musik. Kebiasaan itu kelak menjadi fondasi yang membuatnya dikenal sebagai salah satu produser paling produktif di industri K-pop.


Menemukan Identitas di Dunia Hip-Hop

Seiring bertambahnya pengalaman, Yoongi mulai aktif di komunitas hip-hop bawah tanah di Daegu. Di sana, ia menggunakan nama panggung "Gloss", terinspirasi dari arti namanya yang berkaitan dengan "bersinar".

Komunitas ini memberinya ruang untuk belajar dari musisi lain, tampil di hadapan penonton, serta memahami bahwa dunia musik tidak selalu dipenuhi kemewahan. Banyak musisi independen berkarya karena kecintaan mereka terhadap seni, bukan karena imbalan materi.

Pengalaman tersebut memperluas wawasannya dan memperkuat keyakinan bahwa ia ingin mengabdikan hidupnya pada musik.


Mimpi yang Semakin Besar

Semakin lama berkecimpung di dunia hip-hop, Yoongi menyadari bahwa jika ingin berkembang, ia harus berani mengambil langkah yang lebih besar. Kesempatan itu tidak akan datang dengan sendirinya.

Di dalam hatinya mulai tumbuh sebuah keputusan besar: meninggalkan zona nyaman dan mencoba meraih kesempatan di Seoul, pusat industri hiburan Korea Selatan.

Keputusan itu bukan sekadar tentang pindah kota. Itu berarti meninggalkan kehidupan yang telah dikenalnya, menghadapi ketidakpastian, dan menerima risiko bahwa semua usahanya bisa saja berakhir dengan kegagalan.

Namun, setiap mimpi besar memang menuntut keberanian yang sama besarnya.

Dan tanpa ia sadari, keputusan itulah yang akan membuka babak paling berat dalam hidupnya.


Penutup Part 1

Masa kecil Min Yoongi bukanlah kisah tentang kemewahan atau jalan yang mulus. Ia tumbuh dalam kesederhanaan, menemukan harapan melalui musik, lalu harus menghadapi kenyataan bahwa impiannya tidak mudah diterima oleh semua orang.

Meski demikian, ia memilih untuk terus melangkah. Dengan bekal tekad dan kecintaan yang besar terhadap musik, Yoongi bersiap meninggalkan Daegu demi mengejar cita-cita yang tampak hampir mustahil.

Pada Part 2, perjalanan akan berlanjut ke masa ketika Yoongi menjadi trainee di Big Hit Entertainment, menghadapi kehidupan yang serba kekurangan, bekerja paruh waktu demi bertahan hidup, hingga mengalami kecelakaan yang meninggalkan cedera bahu selama bertahun-tahun.

Komentar Pilihan

0 Komentar

Masuk untuk ikut berdiskusi dan menggunakan stiker keren.