
Kisah Sedih Perjuangan SUGA BTS: Hidup Miskin di Seoul Demi Sebuah Mimpi (Part 3)
“Min Yoongi menjalani kehidupan yang penuh keterbatasan sebagai trainee di Seoul. Di tengah latihan tanpa henti dan kondisi ekonomi yang sulit, ia tetap bertahan demi mimpinya. Keputusan mencari pekerjaan paruh waktu pun mengubah hidupnya selamanya.”
Share ke media sosial dapatkan poin. Poin hanya diberikan jika share berhasil.
Menjadi trainee di Big Hit Entertainment bukan berarti semua kesulitan Min Yoongi berakhir. Justru, kehidupan barunya di Seoul memperlihatkan kenyataan yang jauh lebih keras daripada yang pernah ia bayangkan.
Di balik impiannya menjadi musisi, Yoongi harus menghadapi hari-hari yang dipenuhi keterbatasan. Uang yang dimiliki sangat sedikit, kebutuhan hidup terus berjalan, sementara masa depannya masih dipenuhi tanda tanya. Tidak ada jaminan bahwa semua pengorbanan itu akan berakhir dengan kesuksesan.
Namun, di tengah segala kesulitan tersebut, satu hal tidak pernah berubah: tekadnya untuk terus bertahan.
Seoul yang Tidak Ramah bagi Anak Perantauan
Bagi banyak orang, Seoul adalah kota yang penuh peluang. Namun, bagi Min Yoongi yang datang dari Daegu, kota ini juga menghadirkan tantangan besar.
Biaya hidup jauh lebih tinggi dibandingkan kampung halamannya. Sebagai trainee di perusahaan kecil, ia tidak hidup dalam kemewahan seperti yang sering dibayangkan masyarakat tentang calon idol K-Pop.
Sebaliknya, ia harus belajar hidup dengan sangat hemat.
Setiap pengeluaran dipikirkan berulang kali. Uang yang dimiliki harus cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari sambil tetap mengejar impian yang belum tentu berhasil.
Hari-Hari yang Dipenuhi Latihan
Rutinitas Yoongi hampir selalu sama.
Pagi hingga malam diisi dengan latihan rap, vokal, koreografi, evaluasi, dan belajar berbagai kemampuan yang dibutuhkan sebagai idol.
Setelah jadwal resmi selesai, ia masih memilih berada di studio untuk membuat musik.
Baginya, setiap lagu yang berhasil diciptakan adalah satu langkah lebih dekat menuju cita-citanya sebagai produser.
Sering kali waktu tidur harus dikorbankan. Kelelahan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Namun, ia percaya bahwa kerja keras hari ini akan menentukan masa depannya.
Belajar Bertahan dengan Keterbatasan
Dalam beberapa kesempatan, SUGA pernah menceritakan bahwa kondisi ekonominya saat itu sangat sulit.
Ada hari-hari ketika ia harus benar-benar menghemat uang untuk bertahan hidup.
Pengalaman tersebut mengajarkannya arti menghargai hal-hal sederhana yang sebelumnya mungkin dianggap biasa.
Meski hidup dalam keterbatasan, ia tidak pernah berhenti belajar.
Ia terus membaca, mendengarkan musik, mempelajari teknik produksi, dan mencoba menghasilkan karya yang lebih baik dari hari ke hari.
Musik Menjadi Tempat Pulang
Ketika rasa lelah datang, Yoongi selalu kembali kepada musik.
Studio menjadi tempat di mana ia merasa paling nyaman.
Di ruangan sederhana yang dipenuhi peralatan musik itulah ia menuangkan segala pikiran, kegelisahan, dan harapan ke dalam lirik-lirik yang kelak dikenal jutaan orang.
Musik bukan hanya pekerjaan.
Musik adalah alasan mengapa ia tetap bertahan.
Menyaksikan Teman-Teman Menyerah
Dunia trainee tidak hanya dipenuhi cerita sukses.
Yoongi melihat sendiri bagaimana banyak orang datang membawa mimpi besar, tetapi akhirnya harus menyerah karena berbagai alasan.
Ada yang tidak sanggup menghadapi tekanan.
Ada yang memilih kembali ke kehidupan biasa.
Ada pula yang kehilangan kesempatan setelah bertahun-tahun berlatih.
Setiap perpisahan menjadi pengingat bahwa dirinya juga bisa mengalami hal yang sama jika berhenti berusaha.
Karena itulah, ia memilih terus melangkah meski masa depan belum jelas.
Tekad yang Semakin Kuat
Semakin berat cobaan yang dihadapi, semakin kuat pula tekad Yoongi.
Ia mulai meyakini bahwa kesulitan bukanlah alasan untuk berhenti, melainkan proses yang akan membentuk dirinya menjadi lebih kuat.
Pemikiran tersebut kemudian banyak tercermin dalam karya-karya Agust D yang mengangkat tema perjuangan, rasa sakit, dan harapan.
Pengorbanan yang Belum Berakhir
Meski telah hidup sehemat mungkin, kebutuhan hidup di Seoul tetap tidak mudah dipenuhi.
Akhirnya, Yoongi mengambil keputusan yang tidak bisa dihindari.
Ia mulai mencari pekerjaan paruh waktu agar tetap dapat bertahan sambil menjalani kehidupan sebagai trainee.
Keputusan itu tampak sederhana.
Namun, tanpa disadari, pekerjaan tersebut akan menjadi awal dari salah satu peristiwa paling menyakitkan dalam hidupnya.
Penutup Part 3
Kehidupan Min Yoongi di Seoul mengajarkannya bahwa mengejar mimpi membutuhkan keberanian untuk bertahan dalam keadaan yang paling sulit sekalipun. Di tengah tekanan latihan, keterbatasan ekonomi, dan ketidakpastian masa depan, ia memilih terus melangkah tanpa menyerah.
Namun, perjuangan yang sesungguhnya baru akan dimulai. Demi memenuhi kebutuhan hidup, Yoongi akan bekerja paruh waktu sebagai kurir. Dari pekerjaan itulah sebuah kecelakaan serius mengubah jalan hidupnya dan meninggalkan luka yang terus ia rasakan selama bertahun-tahun.

Komentar Pilihan
Masuk untuk ikut berdiskusi dan menggunakan stiker keren.